Rindu Langit Biru di Indonesia

Posted on

Selamat Pagi Bunda, ada yang masih ingat kabar berita mengenai birunya langit Indonesia dan indahnya langit Jakarta di awal pandemi, saat Pembatasan Sosial Skala Besar diberlakukan ga sih 🙂 .

Program Langit Biru
Rindu langit biru (pict. DetikNews)

Meskipun merasakan indahnya langit biru hanya beberapa bulan, setidaknya kita tahu kalau dunia bisa kok memiliki langit biru saat penggunaan kendaraan bermotor berkurang.

Terbukti kalau langit biru yang indah itu masih bisa diusahakan oleh kita, kalau kita semua mau berusaha mengurangi penggunaan kendaraan dengan bahan bakar fosil yang mengeluarkan polusi seperti kendaraan bermotor.

Saat ini kondisi langit yang tidak lagi biru akibat polusi memang menjadi masalah besar yang kita hadapi saat ini, tidak hanya di Indonesia tetapi juga terjadi di seluruh dunia.

Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan salah satu hak asasi manusia dimanapun berada, tetapi sayangnya manusia sendiri yang mengotori dan merusak alam dan lingkungan sekitarnya.

Pandemi Covid-19 memang membuat banyak masyarakat dunia panik, merasa terancam kesehatannya sehingga mulai menjalankan pola hidup sehat agar bisa terhindar dari penyebaran virus. Namun, pencemaran lingkungan dan polusi sebenarnya merupakan masalah kesehatan yang lebih mematikan, meski tidak disadari secara langsung.

Bersyukur saya mendapatkan banyak informasi mengenai upaya penanganan masalah lingkungan hidup bersama Kantor Berita Radio (KBR) yang bekerjasama dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dalam rangkaian webinar dan dialog publik dengan tema “Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru”. Program Langit Biru adalah upaya untuk mengantisipasi adanya krisis lingkungan, khususnya polusi udara.

Edukasi Program Langit Biru
Edukasi Program Langit Biru

Kalian tahu gak sih, kalau Hak Asasi Manusia untuk mendapatkan lingkungan yang bersih, sudah diatur pada UU. No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sehingga suksesnya program Langit Biru bisa loh diwujudkan, apalagi kalau adanya kesadaran bersama akan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, agar udara menjadi bersih dan tidak tercemar lagi akibat polusi.

Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tenggara

Tidak hanya di kota besar, bahkan program Langit Biru juga di galakkan di Kalimantan dan Sulawesi, karena seperti kita ketahui kedua wilayah Indonesia ini masih diharapkan menjadi paru-paru dunia dengan hutan tropisnya yang mulai berkurang akibat pembangunan.

Spirit Program Langit Biru adalah upaya untuk mengantisipasi adanya krisis lingkungan, khususnya polusi udara, yang dicetuskan oleh multi sebab, baik karena benda atau barang tidak bergerak, barang bergerak. Adapun sumber pencetus utama benda atau barang bergerak adalah sektor transportasi darat.

Maka dari itu, untuk mewujudkan program langit biru dan juga mereduksi gas karbon sebagaimana janji Presiden Jokowi pada Protokol Paris (2015), maka mau tidak mau target untuk mewujudkan jenis BBM ramah lingkungan (berstandar Euro 2) menjadi suatu keharusan.

Bahan bakar ramah lingkungan menjadi sorotan sangat penting untuk dapat menjalankan program Langit Biru. Namun, kurangnya kepedulian masyarakat terhadap bahan bakar ramah lingkungan menjadi tantangan bagi pemerintah, YLKI, Pertamina dan pihak terkait lainnya untuk mengedukasi pentingnya peranan bahan baku ramah lingkungan.

Pertamina sudah mengeluarkan produk bahan bakar ramah lingkungan, yaitu bahan bakar dengan nilai oktan tinggi. Nilai oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan. Jadi, semakin tinggi nilai oktan maka kemungkinan bahan bakar untuk menghasilkan residu pemakaian itu semakin kecil.

Adapun produk bahan bakar dari Pertamina dengan nilai oktan tinggi adalah :
• Premium (nilai oktan 88)
• Pertalite (nilai oktan 90)
• Pertamax (nilai oktan 92)
• Pertamax Turbo (nilai oktan 98)

Namun, pada kenyataannya di masyarakat, harga produk di atas Premium masih dianggap terlalu mahal, sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan Premium sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dan mesin usaha mereka. Nah, di sinilah masalahnya untuk kemudian menyadarkan mereka bahwa bahan bakar Premium menjadi pemicu masalah lingkungan, khususnya polusi udara sehingga sulit wujudkan langit biru di Indonesia.

Masyarakat masih menganggap selama masih bisa jalan, tak apa menggunakan bahan bakar murah. Padahal tanpa disadari, bahan bakar dengan sisa timbal yang besar sebenarnya dapat merusak kendaraan bermotor, selain itu juga sudah tentu merusak lingkungan dengan polusi yang dihasilkan.

Butuh waktu dalam mengedukasi masyarakat untuk sadar akan pentingnya bahan bakar ramah lingkungan, maka diperlukan kerja sama yang solid antara pemerintah dan stakholder terkait perihal transformasi harga bahan bakar ramah lingkungan sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya untuk yang punya uang banyak tetapi juga seluruh lapisan masyarakat bisa menggunakannya.

Pemerintah sudah berupaya untuk menciptakan yang terbaik bagi masyarakat, sekarang saatnya bagi kita untuk mengikuti peraturan yang ada dan ikut menjaga lingkungan agar program langit biru bisa tercapai.

Sudahkah kita menggunakan bahan bakar ramah lingkungan, yang baik bagi kendaraan dan juga lingkungan sekitar kita, atau bahkan lebih memilih menggunakan sepeda gowes sebagai kendaraan untuk beraktivitas yang lebih sehat bagi tubuh juga mengurangi polusi bagi lingkungan.

Mari kita wujudkan terlaksananya program Langit Biru untuk masa depan bumi yang lebih sehat 🙂 .

Spread the love

15 thoughts on “Rindu Langit Biru di Indonesia

  1. Untuk menjaga langit tetap bersih dan biru, perlu adanya kerja sama antar pihak dalam mengatur penggunaan bbm yang menghasilkan gas karbon yang bisa memengaruhi cuaca. Langit biru tanda langit cerah.

  2. Karena aku tinggal di desa, langit biru itu masih sering terlihat. Beda mungkin ya kalau tinggal di kota besar yang padat. Meski begitu, aku tetap dukung apa pun biar langit tetap biru

  3. Penduduk kota besar mungkin akan sulit menikmati langit biru ya, berbeda dengan di desa yang masih mudah melihat bentang angkasa tanpa tercemar polusi udara. Semoga dengan adanya kesadaran akan pentingnya kondisi langit biru, para penduduk terutama di kota dapat mengurangi kegiatan yang dapat memperparah kualitas buruk udara.

  4. Ya sih awal2 pandemi krn gak banyak org keluar rumah pakai kendaraan pribadi.
    Yes butuh waktu sih utk edukasi spy pindah bahan bakar ke yg lbh ramah lingkungan.
    Eh tp sbnrnya kalau kendaraan umum udah enak org2 jg akan milih kendaraan umum kyknya. Jd sebaiknya pemerintah lbh fokus ke improve kendaraan umum ini #imho

  5. Nah iya banget niih…memilih bahan bakar berdasarkan nilai oktannya yang paling tinggi. Karena ini berkaitan dengan pembakaran yang sempurna sehingga mesin tetap awet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *