Merayakan Hari Keluarga Nasional Danone dan BKKBN Edukasi Pentingnya Peran Keluarga Dalam Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

Diposting pada

Melihat postingan di akun Instagram @nutrisibangsa minggu lalu, saya sangat tertarik untuk bisa mengikuti secara langsung webinar #BicaraGizi dengan tema “Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Di Masa Transisi” yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam memperingati
#HariKeluargaNasional2022 , menghadirkan pembicara :
1. dr. Irma Ardiana, MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak,
2. Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak, dan
3. Cici Desri, Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101

Tema yang menarik bagi saya, terutama sebagai orang tua yang saat ini memiliki anak yang baru selesai belajar Taman Kanak-kanak dan baru mau masuk Sekolah Dasar di masa transisi usai pandemi.

Berharap informasi yang saya dapatkan mengenai bagaimana pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, terutama anak di masa transisi setelah pandemi dapat di bagikan kepada orangtua lainnya, sehingga mengedukasi masyarakat sekitar untuk lebih mengutamakan kebutuhan gizi keluarga agar bisa wujudkan generasi emas di masa depan.

Tidak bisa kita pungkiri, pandemi banyak merubah kebiasaan kita sehari-hari, yang biasanya anak bisa bebas bermain di luar rumah, selama 2 tahun harus bisa berjuang dan bertahan tinggal di rumah saja dengan berbagai keterbatasan.

Namun dimasa transisi ini, anak-anak yang lahir saat pandemi atau masih usia di bawah 5 tahun sudah bisa kembali beraktivitas normal dan bersosialisasi dengan lingkungan, meski tetap harus mematuhi protokol kesehatan dan kebiasaan hidup sehat.

 

Edukasi Pentingnya Lingkungan yang Mendukung Anak Dalam Menghadapi Masa Transisi Untuk Tumbuh Kembang yang Optimal

Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin mengatakan, “Momen transisi menjadi kesempatan baik untuk mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, utamanya dalam perkembangan sosial emosionalnya. Anak usia dini pada dasarnya rentan karena mereka bergantung pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan paling dasarnya. Danone SN Indonesia memahami bahwa anak membutuhkan lingkungan terdekatnya untuk merangsang dan memberikan kesempatan tumbuh kembang yang optimal.”

Sebagai perusahaan yang ramah keluarga, Danone SN Indonesia  memberikan dukungan kepada para orangtua agar si Kecil dapat tumbuh optimal, melalui pemberian cuti melahirkan bagi karyawan, yakni cuti 6 bulan bagi ibu dan 10 hari bagi ayah.

Danone SN Indonesia juga secara aktif memberikan edukasi seputar kesehatan dan nutrisi untuk publik seperti halnya dalam Bicara Gizi hari ini. Danone berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kolaborasi orangtua untuk dapat memberikan stimulus yang tepat agar mencapai keberhasilan dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak.

Selama pandemi berlangsung, pembatasan fisik dan sosial akibat pandemi menyebabkan masalah kesehatan sehingga mempengaruhi emosional, mental, dan perkembangan terutama pada anak. Anak-anak usia dini banyak kehilangan tingkat interaksi, yang merupakan tonggak penting bagi perkembangan sosial emosionalnya.

Salah satu aspek penting dalam perkembangan sosial emosional anak adalah pengasuhan. Perilaku orangtua yang stabil dan stimulus yang tepat merupakan kunci keberhasilan dalam perkembangan sosial emosional anak.

Selain itu pemenuhan gizi seimbang, pola makan dan pola hidup sehat juga berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak agar lebih optimal dan anak menjadi generasi emas yang berprestasi di masa depan.

 

Peran Pola Asuh Orangtua Dalam Perkembangan Sosial Emosional Anak

Berdasarkan survei BKKBN mengenai pola asuh, terungkap bahwa selama pandemi COVID-19, 71,5% pasangan suami istri telah melakukan pola asuh kolaboratif, 21,7% mengatakan istri dominan, dan 5,8% hanya istri saja. Di sisi lain, data UNICEF menyebutkan bahwa selama pandemi orang tua mengalami tingkat stress dan depresi yang lebih tinggi, serta menilai pengasuhan anak di rumah saja memiliki risiko tersendiri.

Kondisi ini sangat mungkin menghambat kemampuan orang tua untuk mengatasi emosi dan kebutuhan psikologis anak. Sehingga setiap keluarga diharapkan dapat merespon secara memadai terhadap perubahan yang diperlukan dan menguatkan fungsi-fungsi keluarga agar mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

Anak usia dini masih sangat membutuhkan bantuan dari lingkungan terdekatnya untuk merangsang dan memberikan kesempatan tumbuh kembang yang optimal. Perkembangan sosial emosional merupakan faktor penting untuk tumbuh kembang anak.

Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Irma Ardiana, MAPS menjelaskan bahwa gaya pengasuhan sangat memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak.

Pola pengasuhan bersama menekankan komunikasi, negosiasi, kompromi, dan pendekatan inklusif untuk pengambilan keputusan dan pembagian peran keluarga.

“Pengasuhan bersama antara ayah dan ibu menawarkan cinta, penerimaan, penghargaan, dorongan, dan bimbingan kepada anak-anak mereka. Peran orang tua yang tepat dalam memberikan dorongan, dukungan, nutrisi, dan akses ke aktivitas untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan merupakan hal yang penting. Dalam konteks percepatan penurunan stunting, pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan. Peran Tim Pendamping Keluarga menjadi krusial untuk mendampingi keluarga berisiko stunting dalam pemberian informasi pengasuhan di Bina Keluarga Balita. Pola asuh yang tepat dari orangtua dinilai mampu membentuk anak yang hebat dan berkualitas di masa depan,” ungkap dr. Irma.

Memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai perkembangan sosial emosional pada anak dapat membantu orangtua untuk memberikan stimulasi dan memonitor perkembangan dengan baik. Di samping itu, hubungan antara orangtua dan anak memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan si Kecil di masa mendatang.

 

Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH menjelaskan bahwa aspek sosial dan emosional sangat penting bagi anak untuk mencapai semua aspek kehidupannya dan bersaing di fase kehidupan selanjutnya dimulai dari remaja hingga lanjut usia.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pasca pandemi saat ini.

Bagi anak-anak, kebingungan menghadapi perubahan ruang dan rutinitas baru saat kembali menjalani kehidupan dan interaksi sosial dapat meningkatkan masalah sosial-emosional yang dampaknya bisa berbeda tergantung dengan usia anak dan dukungan dari lingkungannya.

Gangguan perkembangan emosi dan sosial dapat mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan di masa dewasa, seperti gangguan kognitif, depresi, dan potensi penyakit tidak menular.

Dokter Bernie juga menjelaskan mengenai fakta bahwa perkembangan emosi dan sosial berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Ketiganya saling terkait dan berpengaruh signifikan terhadap tumbuh kembang anak agar anak dapat tumbuh menjadi anak hebat. “Agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka orang tua perlu memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat.” ungkap dr. Bernie.

Hadir juga dalam webinar kali ini, Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101, Cici Desri yang berbagi pengalaman saat mempersiapkan si Kecil menghadapi transisi untuk kembali berinteraksi dengan lingkungan sosial. “Setelah menjalani pembatasan sosial selama hampir dua tahun, saya melihat ada banyak tantangan yang dihadapi si Kecil untuk kembali bersosialisasi dengan dunia luar. Proses adaptasi pun tidak selalu berjalan dengan mudah, mulai dari kekagetan si Kecil yang bertemu dengan banyak orang baru, beraktivitas dan berinteraksi dengan banyak orang membuat si kecil kadang juga menjadi frustasi. Menghadapi hal tersebut, saya dan suami mengambil bagian dalam pengasuhan dan memperkuat keterlibatan dengan si Kecil terlebih pada fase transisi saat ini,” kisah Cici.

Sebagai orangtua, kita harus berikan dukungan kepada si Kecil agar mereka mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan secara verbal sehingga orangtua dapat mengetahui apa yang dirasakan si Kecil secara emosional.

Pentingnya koordinasi dan komunikasi dengan guru dan staf terkait lainnya di sekolah si Kecil juga penting untuk memantau cara si Kecil mengatasi dan mengikuti tugas atau kegiatan.

Bahkan berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang juga perlu untuk mengetahui lebih jauh upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si Kecil.

Fase membangun hubungan baru di masa transisi ini merupakan sebuah keterampilan yang harus kita ajarkan kepada si Kecil, agar mereka dapat menguasainya kita wajib berikan dukungan yang tepat.

Dengan interaksi sosial secara tatap muka langsung, si Kecil mampu menumbuhkan rasa kepercayaan baru dan merasakan kenyamanan saat berada di lingkungan barunya, diharapkan si Kecil bisa tumbuh menjadi anak hebat yang pintar, berani, dan memiliki empati tinggi di masa depannya kelak

Spread the love

12 thoughts on “Merayakan Hari Keluarga Nasional Danone dan BKKBN Edukasi Pentingnya Peran Keluarga Dalam Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

  1. Mau tanyakan untuk orangtua tunggal persiapkan fungsi keluarga terbaik bagaimana ya agar anak tetap tumbuh optimal

  2. Menarik sekali pembahasannya, tapi untuk orang tua tunggal kira2 support terbaik bagi anak yg seperti apa ya

  3. Dapat banyak info menarik bagaimana berikan dukungan dalam menghadapi masa transisi agar anak bisa tumbuh kembang lebih optimal

  4. Peran keluarga memang paling penting bagi tumbuh kembang anak, jadi ada baiknya anak2 tumbuh di keluarga yang harmonis

  5. Agar anak bisa selalu percaya diri dan tumbuhan secara optimal, memang harus dapatkan dukungan terbaik dari keluarga inti ya

  6. Akibat pandemi anak jadi lebih addict ke gadget emang, mereka malah ga paham bagaimana bersosialisasi dengan lingkungan dan temannya

  7. Pengalaman pribadi gagal ajarkan anak bersosialisasi dan mengelola emosi akibat pandemi karena sekolah daring , orang tua memang wajib selalu dampingi anak agar mudah bersosialisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *