Literasi Gizi Yang Baik Wujudkan Generasi Indonesia Sehat Terbebas Dari Gizi Buruk Dan Stunting

Diposting pada

Pagi Bunda, masih ingat gak saat masih kecil ada iklan di televisi yang bersetting cerita keluarga bahagia mengawali pagi harinya dengan meminum segelas susu yang diseduh dari kental manis?

Karena seringnya melihat tayangan iklan semacam ini, bahkan sampai melekat di pikiran saya kalau setiap pagi minum susu dari kental manis pasti keren dan sehat seperti di iklannya.

Pernah sampai merengek ke orangtua untuk minum kental manis yang saya pikir adalah susu, biar seperti teman-teman saya yang lainnya. Maklum saya termasuk dari banyak orang yang termakan iklan televisi.

Satu hal yang saya dapat dari rutin minum kental manis sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah tubuh saya yang semakin gempal dan pipi tampak lebih membengkak.

Sejak mengetahui kenyataan pahit dibalik manisnya iklan kental manis, banyak penyesalan yang berkecamuk dalam pikiran saya.

Apa kenyataan pahit itu? Ternyata SKM (susu kental manis) 60% nya adalah gula dengan sedikit perasa susu. Sudah tahu dong kalau kelewat banyak konsumsi gula apa yang akan kita dapatkan? Yups, obesitas dan penyakit diabetes menghantui, juga Stunting.

Sudah tentu saya tidak mau pengalaman buruk ini terulang pada anak saya Azzam yang saat ini berusia 6 tahun, ga pernah saya sampai stok kental manis di rumah, hal ini saya lakukan agar anak tidak terlalu mengenal dan terbiasa mengkonsumsi kental manis.

Sejalan dengan pengalaman saya tadi, senang sekali saat bisa mengikuti Webinar Literasi Gizi dan Gernas Baku Anak Usia Dini, Wujudkan Jakarta Sehat, Cerdas, Bahagia. Bersama Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) yang menaungi ribuan guru PAUD di seluruh Indonesia, merupakan satu organisasi yang potensial untuk ambil bagian dalam peningkatan budaya literasi demi menciptakan masa depan generasi emas 2045 yang gemilang.

Literasi Gizi dan Gernas Baku Anak Usia Dini
Literasi Gizi dan Gernas Baku Anak Usia Dini

Seperti kita ketahui bersama, usia dini anak merupakan masa emas, atau golden period yang perlu diperhatikan, mengingat pada masa ini anak tengah mengalami pertumbuhan otak yang sangat pesat. Faktor penunjang pertumbuhan anak seperti asupan nutrisi dan pendidikan awal penting untuk diperhatikan. Karena itu, dalam pendidikan anak usia dini, peran guru dan orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan masa depan anak.

Sebagaimana diketahui, asupan nutrisi anak berkaitan erat dengan penerapan pola makan dan hidup bersih sehat sejak dini, untuk mencegah berbagai tantangan kesehatan bagi anak di masa depan. Selain keluarga, PAUD merupakan lingkungan terdekat anak untuk mengerti dan membiasakan menerapkan pola hidup sehat, termasuk konsumsi makanan bergizi dan perilaku hidup bersih sehat. Karena itu, pemahaman guru mengenai asupan nutrisi yang baik untuk anak perlu terus ditingkatkan, salah satunya adalah melalui literasi gizi.

Laporan UNESCO, The Social and Economic Impact of Illiteracy mengatakan, tingkat literasi rendah mengakibatkan kehilangan atau penurunan produktivitas dan tingginya beban biaya kesehatan dalam suatu negara. Sayangnya, Indonesia saat ini masih tercatat sebagai negara dengan literasi gizi masyarakat yang rendah.

Hal ini sekaligus pertanda agenda prioritas Nasional pemerintah untuk melakukan penurunan kasus stunting akan sulit terealisasi, apabila masalah rendahnya literasi gizi (nutrition illiterate) masyarakat tidak ditempatkan sebagai prioritas. Oleh karena itu, diperlukan peran serta seluruh lapisan masyarakat dalam meningkatkan literasi di Indonesia.

Literasi Gizi
Pentingnya literasi gizi untuk Indonesia lebih sehat

Pembicara pertama, Bapak Arif Hidayat menjelaskan kalau tingkat literasi masyarakat Indonesia sangat rendah, hal ini menyebabkan kemunduran tingkat intelegensi masyarakat. Maka penting sekali agar literasi gizi orang tua dan guru, terutama guru PAUD lebih diperbaiki.

Kalian sadar gak sih, di tahun 2018 ada persepsi kalau kental manis adalah susu yang bisa di konsumsi layaknya minuman susu bagi anak, hal ini di sebarluaskan oleh iklan-iklan televisi, tentu saja ini berakibat langsung dalam memperburuk kesehatan anak, sehingga banyak anak Indonesia yang mengalami Gizi Buruk dan Stunting.

Sedang di tahun 2019 banyak ibu hamil yang berpikiran kalau kental manis bagi pertumbuhan janinnya, sehingga mereka mengkonsumsi kental manis dengan tujuan agar anak mereka kelak tumbuh dengan sehat, padahal ini adalah persepsi yang salah besar.

Dalam mengedukasi masyarakat, harus jelas targetnya, mengedukasi melalui orang tua, sekolah, guru, anak-anak dan lingkungan.

Ayo kita memulai hidup sehat dari diri sendiri, mulai STOP konsumsi kental manis sebagai minuman pendamping sarapan. Karena generasi Indonesia membutuhkan nutrisi dan gizi yang optimal, bukan diracuni oleh timbunan gula yang berlebih pada tubuhnya.

Asupan Gizi agar anak tidak mengalami gizi buruk dan stunting
Panduan Asupan Gizi agar anak tidak mengalami gizi buruk dan stunting.

Ibu Nur Aisyah Widjaja dari Unit Kegiatan Nutrisi Anak dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan tentang Asupan Nutrisi terbaik untuk anak usia PAUD

Stunting adalah masalah kurang gizi yang kronis atau malnutrisi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang, dalam waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu saat janin masih dalam kandungan dan baru akan nampak pada saat anak berusia dua tahun.

Seorang anak akan terlihat mengalami Stunting ketika di bandingkan dengan anak-anak lain seusianya, dengan kondisi tubuh lebih kecil, pendek dan kurus. Stunting pada anak akan mengakibatkan generasi masa depan yang kurang baik, karena mereka yang mengalami Stunting akan memiliki IQ < 95 yang membuat mereka tidak bisa bersaing saat dewasa kelak, juga lebih beresiko mengalami obesitas diusia 18 tahun.

Ciri anak sehat terbebas dari gizi buruk dan stunting
Ciri anak sehat terbebas dari gizi buruk dan stunting

Berikut ini tips mencegah stunting.
1. Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi (tablet zat besi atau Fe)
2. Pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai umur 6 bulan, dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya.
3. Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.
4. Saat anak berusia tiga tahun dianjurkan mengkonsumsi 13 gram protein yang mengandung asam amino esensial setiap hari, yang didapat dari sumber hewani, yaitu daging sapi, ayam, ikan, telur, dan susu.
5. Orang tua, terutama Ibu harus rajin mengukur tinggi badan dan berat badan anak setiap kali memeriksa kesehatan di Posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak serta mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.
6. Tidak diperbolehkan untuk anak usia 0-12 bulan mengkonsumsi kental manis.

Ingat ya Bunda, kental manis bukan susu balita, jangan sampai kita meracuni buah hati kita dengan asupan makanan maupun minuman yang tidak sehat.

Spread the love

5 thoughts on “Literasi Gizi Yang Baik Wujudkan Generasi Indonesia Sehat Terbebas Dari Gizi Buruk Dan Stunting

  1. Wah ada tips mencegah stunting, boleh nih dipraktekkan. Sebagai calon Ibu, saya rasa perlu informasi dan edukasi gizi seperti ini. Makasih yaa Mba informasinya 🙂

  2. Apakah harus ada buat iklan klarifikasi alias iklan tandingan, kalau kental manis itu BUKAN SUSU, sehingga iklan jaman dulu itu bisa terbantahkan?

    Pemahaman masyarakat sudah melekat kuat ya. Sosialisasi harus lebih gencar dilakukan… Semangat!

  3. Dulu aku rutin minum kental manis, lho. Aku juga ngiranya itu susu. Untung pas punya anak, nggak ngasih itu sebagai susu. Sesekali aja buat topping roti. Sekarang udah tau ya, kental manis itu bukan susu.

  4. Literasi emang penting banget sih biar orang tua dan guru itu tau dan dapat memberikan yang terbaik untuk si kecil yang sedang tumbuh kembang. Semoga semakin banyak orang tua yang aware kalau kental manis bukan susu yaa mbak dan nggak boleh diberikan ke balita!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *