Langkah Pemerintah Dalam Menyikapi Potensi dan Mitigasi Kebencanaan

Posted on

Pagi moms, di awal tahun 2019 kita di kagetkan dengan bencana tsunami di wilayah Banten, beberapa hari yang lalu juga terjadi gempa dengan kekuatan 5,1 magnitudo yang mengguncang pulau Morotai, Maluku Utara. Semoga tidak ada korban jiwa disana ya moms, karena bencana geologi seperti ini memang tak bisa diduga datangnya.

Dimanapun kita berada perlu sekali #WaspadaBencana untuk mencegah duka yang berlarut. Tidak perlu takut berlebihan, tapi kita harus saling mengingatkan dan menjaga. Bukankah kita hidup sebagai makhluk sosial, bukan makhluk individu.. jadi, ada baiknya kita selalu waspada bencana kapanpun dan dimanapun.

Sedih dan luka mendalam pasti dirasakan oleh mereka yang mengalami bencana, dari kehilangan orang-orang tercinta, sampai kehilangan harta benda. Bencana memang datang tidak dapat di duga kapan datangnya, tapi kalau kita memiliki teknologi yang dapat memberikan peringatan awal, sudah pasti akan sangat membantu kita dalam mengantisipasi korban jiwa akibat bencana.

Indonesia memang dikenal berada di wilayah yang subur secara geografis, namun juga berada pada kondisi geologis yang rawan bencana dengan risiko bermacam-macam. Gunung berapi aktif tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Selain itu, Indonesia juga di kelilingi oleh lautan luas yang berpotensi rawan potensi tsunami.

Berdasarkan data yang ada, sepanjang tahun 2018, UNISDR (United Nation International Strategy of Disaster Reductio) sudah mencatat jumlah korban jiwa akibat bencana, di Indonesia merupakan paling tinggi di dunia, yaitu mencapai jumlah 4,535 jiwa dari total 10.373 jiwa.

Dalam hal ini, Pemerintah berusaha sebaik mungkin dalam mengantisipasi dan mengurangi jumlah korban jiwa yang diakibatkan oleh bencana. Namun besarnya perhatian Pemerintah dalam hal ini masih dianggap kurang optimal oleh masyarakat dan menuai banyak kritik. Banyaknya alat deteksi bencana yang tidak berfungsi menjadi sorotan, sedangkan anggaran bencana terus meningkat.

Menjawab kritik masyarakat, Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) mengadakan Diskusi Media dengan tema “Potensi dan Mitigasi Kebencanaan”, Jum’at (8/2/2019) bertempat di Ruang Auditorium Gedung BMKG Jl. Angkasa 1 no. 2, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Apa itu Mitigasi bencana? Mitigasi Bencana adalah serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Diskusi media "Potensi dan Mitigasi Kebencanaan"
Diskusi media “Potensi dan Mitigasi Kebencanaan”

Hadir sebagai narasumber, para ahli di bidangnya, yaitu dari lembaga PVMBG KESDM, BMKG, BNPB dan Badan Informasi Geospasial.

1. Rachmat Triyono, selaku Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG,

2. Hendra Gunawan, Kepala Badan Mitigasi Gunung Api, KESDM,

3. Antonius Bambang Yuniarto, Kepala Pusat Jaring Kontrol Geospasial,

4. Lilik Kurniawan, Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB.

Diskusi dibuka oleh Bapak Rahmat Priyono, yang menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi bencana alam yang lengkap, dengan sistem peringatan yang masih kurang memadai, namun pemerintah sudah membangun Monumentasi JK Geodesi seperti Pilar JKG, Stasiun GPS Cors, Stasiun Pasang Surut, dan Pilar Gaybert Utama untuk mendeteksi dini pergerakan bumi yang berpotensi rawan bencana.

“Kedepan kita juga akan coba pasang seismograf, untuk mengamati dampak erupsi gunung api”, ungkap Rahmat Triyono Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami.

Hasanuddin Z. Abidin, Kepala Badan Geospasial memberikan paparan aplikasi Magma Indonesia yang memetakan daerah rawan bencana di Indonesia. Bencana itu adalah siklus, karena bumi itu dinamis, selalu bergerak, dan ini menyebabkan kita rawan terhadap semua jenis bencana, jadi ada yang namanya jaringan informasi geospasial.

Prosedur mitigasi kita perbaiki terus, intinya kita kedepankan early warning sehingga korban akan dikurangi – Hendra Gunawan Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, KESDM.

“Untuk potensi gempa bumi, saat ini BNPB Indonesia dibantu tim intelegen dan para pakar sudah memprediksi kemungkinan-kemungkinan dalam beberapa tahun kedepan”, ungkap Lilik Kurniawan, Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB.

Tahun 2019 ini BNPB Indonesia ini sudah memetakan wilayah rawan potensi bencana dengan badan geologi, kemudian BMKG dan badan Geospasial , BNPB sudah melakukan penghitungan berapa banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan bencana.

Atasi potensi bencana dengan Mitigasi Kebencanaan
Atasi potensi bencana dengan Mitigasi Kebencanaan dan pemetaan wilayah rawan bencana.

Mitigasi bencana menjadi perhatian serius dari pemerintah, Presiden Jokowi dlm Rangka Koordinasi Nasional BNPB dan BPDB se-Indonesia mberi setidaknya 6 arahan terkait implementasi mitigasi bencana
1. Setiap Perencanan pembangunan hrs dilandaskan pada aspek-aspek pengurangan risiko bencana.
2. Adanya keterlibatan akademisi dan pakar bencana untuk mengkaji, menganalisis potensi bencana supaya kita mampu memprediksi siklus ancaman, mengantisipasi dan mengurangi dampak bencana
3. Saat terjadi bencana, Gubernur sbg komandan satuan tugas penanganan kondisi darurat,dg didukung Pangdam dan Kapolda sebagai wakilnya
4. Pembangunan dan peringatan dini terpadu berbasis rekomendasi hasil penelitian dan pengkajian para pakar.
disini BNPB bertugas mengkoordinasikan kementerian dan lembaga terkait untuk membangun sistem peringatan dini terpadu
5. Pendidikan bencana dimulai tahun ini, baik di sekolah maupun di masyarakat, terutama daerah rawan bencana. Papan peringatan, rute evakuasi harus terpasang jelas
6. Perlu adanya simulasi dan pelatihan penanganan bencana

Pemerintah tentu saja tidak bisa melakukan antisipasi mencegah terjadinya bencana, tanpa ada bantuan dan peran serta masyarakat secara aktif. Pemerintah juga menguatkan lembaga-lembaga terkait untuk bersinergi dalam strategi jitu mitigasi.

Semoga alat-alat teknologi deteksi dini bencana yang sudah pemerintah sebar ke seluruh wilayah Indonesia yang terpetakan rawan potensi bencana dapat dijaga, agar dapat berfungsi secara efektif saat bencana tiba. Sehingga dapat mengurangi dampak bencana alam.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *