Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas di Hari Gizi Nasional ke-62

Diposting pada

Saat membahas mengenai obesitas, sebenarnya saya takut. Karena berat saya yang berlebih dan termasuk ke dalam golongan obesitas. Bahkan bisa dibilang kalau saya dan keluarga termasuk ke dalam golongan yang berpotensi obesitas. Karena berat yang berlebih dan jarang sekali berolah raga.

Ternyata, apabila tidak mulai berubah dan cuek pada masalah obesitas, bisa-bisa saya dan keluarga dengan mudah terserang penyakit berbahaya seperti kanker, diabetes, jantung, stroke dan kolesterol.

Bersyukur sekali saya bisa mengikuti Webinar HGN 2022 yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan dengan tema “Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas”.

Bersama narasumber pertama Melinda Mastan, S.Gz Grants Officer Tanoto Foundation dan Dr dr Dhian  Probhoyekti, SKM, MA kita diajak untuk cegah stunting dan obesitas sebelum genting dengan mengedepankan peran remaja dan pelajar.

Kemudian lanjut ke narasumber yang ke dua di webinar Hari Gizi Nasional, HGN 2022, yaitu Eriana Asri, MPH (Nutricion International), tentang “Kursus Gizi Remaja Dan Anemia” agar remaja peduli kesehatan sejak dini dan tidak melakukan diet yang tidak sehat.

Apa itu Obesitas

Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidak seimbangan asupan energi dengan energi yang digunaksn dalam waktu lama.

Ciri dari Obesitas adalah adanya lipatan lemak pada dagu, perut, lengan, dan paha.

Hal Yang Menyebabkan Obesitas

1. Faktor Genetika. Saat salah satu orang tua obesitas, maka anak berpeluang juga mengalami obesitas sebesar, 40-50%. Dan ketika kedua orang tua obesitas, maka peluang anak obesitas menjadi 70-80%.

2. Faktor Lingkungan. Dipengaruhi oleh Pola Makan dan Pola Aktivitas Fisik.

4. Faktor Obat-obatan dan Hormonal.

Pada obat-obatan, seseorang yang mengkonsumsi obat jenis steroid yang sering digunakan dalam jangka waktu yang lama untuk terapi asma, osteoarthritis dan alergi dapat menyebabkan nafsu makan yang meningkat mengakibatkan risiko obesitas.

Pada kasus hormonal, ada hormon leptin, ghrelin, tiroid, insulin dan estrogen yang menimbulkan risiko obesitas.

Berdasarkan data Kementrian Kesehatan Indonesia, sebanyak 13,5% orang dewasa usia 18 tahun ke atas mengalami kelebihan berat badan dimana sebanyak 28,7% beresiko obesitas.

Sementara pada usia anak 5-12 tahun, sebanyak 18,8% anak mengalami kelebihan berat badan, dan 10,8% mengalami obesitas.

Hadir juga sebagai narasumber Ni Putu Desy Aryantini memberikan materi “Peran Industri Dalam Mendukung Gaya Hidup Sehat” dalam rangka mengedukasi masyarakat dalam penerapan pola hidup sehat.

Melihat pada tubuh saya sendiri, saya menjadi khawatir apabila tidak memulai gerakan hidup sehat, saya bisa mati mendadak akibat lemak berlebih pada tubuh.

Pola makan dimulai diubah dengan cara memberi porsi nasi putih lebih sedikit, tidak memasak dengan menggoreng dan tidak mengajarkan anak menikmati junk food.

Tidur dan istirahat yang cukup juga saya terapkan pada diri sendiri dan keluarga. Ternyata kurang istirahat bisa membuat tubuh stress dan membuat kita ingin makan terus, sehingga tanpa kita sadari berisiko obesitas.

Menu sehat adalah menu makanan dengan hidangan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan tubuh secara seimbang, tidak boleh berlebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan tidak baik.

Pemilihan makanan adalah perilaku perubahan perilaku, dimulai dari perubahan persepsi. Perubahan persepsi dengan melakukan edukasi dan role mode.

Anak akan terbiasa makan makanan sehat, apabila orang tua memberi contoh dan menyediakan makanan sehat setiap hari di rumah.

Jangan malas bergerak ya yuk rutin berolahraga, apabila setiap hari kita berjalan seribu langkah, kita bisa mengurangi risiko obesitas dan tulang keropos loh. Jangan lupa lakukan pola hidup sehat, makan dengan gizi seimbang dan jangan mengikuti program diet yang merusak metabolisme tubuh.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *