Strategi Capres Atasi Kerugian Kesehatan Akibat Rokok

Posted on

Pagi moms, ada yang masih mendengar siaran berita melalui radio ga nih? Kenapa Mama Azzam tanyakan hal ini, karena jujur sudah satu tahun terakhir ini saya tidak lagi mendengar siaran radio. Kalau sebelumnya masih bisa dengar siaran radio di bus Transjakarta saat perjalanan menuju suatu undangan acara, sekarang sudah tidak pernah lagi, karena sudah menyetir motor sendiri kalau pergi kemanapun.

Memanfaatkan media sosial Facebook yang menyiarkan kabar berita radio, saya jadi tahu ternyata ada begitu banyak informasi menarik yang saya lewatkan, salah satunya mengenai permasalahan kesehatan yang diakibatkan oleh rokok. Begitu banyak penyakit tidak menular yang saat ini menyerang masyarakat Indonesia diakibatkan oleh pola hidup yang tidak sehat.

Kalau masyarakatnya saja tidak sehat, maka mana bisa membangun negara yang lebih baik, yang ada beban dari pemerintah terus meningkat setiap detiknya, terutama beban biaya kesehatan. Dalam momen Pemilu, ternyata kerugian beban kesehatan yang diakibatkan dari rokok juga menjadi perhatian capres kita, yaitu pasangan Jokowi- KH. Ma’aruf AminĀ  dan Prabowo-Sandiaga Uno.

STOP Merokok
Gerakan STOP MEROKOK untuk mencegah timbulnya risiko penyakit tidak menular. (Pict. Shutterstock)

Seperti masyarakat umum ketahui, bahwa beban kesehatan yang tinggi di Indonesia disebabkan karena tren konsumsi rokok yang selalu meningkat dari tahun ke tahun, dan sudah tentu sangat berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, melaporkan bahwa penyakit tidak menular di Indonesia terus meningkat. Di era jaminan kesehatan nasional, tingginya angka penyakit tidak menular akibat konsumsi rokok jelas menambah beban pemerintah dan masyarakat karena penanganannya membutuhkan biaya yang besar dan memerlukan teknologi tinggi.

Strategi Capres Atasi Kerugian Kesehatan Akibat Rokok

Menyimak obrolan hangat melalui Facebook page Kantor Berita Radio (KBR) yang membahas mengenai bagaimana strategi Capres dalam mengatasi kerugian kesehatan akibat rokok yang semakin membebani biaya kesehatan. Narasumber yang hadir adalah :

1. Prof. Dr. Hasbullah Thabrany, Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin

2. dr. Harun Albar SpA, M.kes , Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Tayang Berita KBR
Tayang Berita KBR yang ditayangkan streaming di Facebook.

Selain itu juga ada pemaparan dari Dr. Abdillah Ahsan, yang merupakan Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI yang sudah direkam sebelumnya soal penyebab permasalahan beban kesehatan di Indonesia saat ini.

Baik dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno setuju dan sepakat kalau rokok adalah masalah besar yang harus segera di atasi bersama dan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia.

Masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan kehadiran rokok di lingkungan mereka, bahkan sebagian besar penghasilan yang didapat lebih dialokasikan untuk membeli rokok dibandingkan untuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang dan pangan. Beragam cara dan kebijakan telah dilakukan oleh pemerintah, tetapi karena masyarakat sudah terlalu kecanduan nikotin, pelarangan merokok tidak digubris.

Jangankan untuk mematuhi pelarangan merokok di ruang terbuka, karena kenyataannya masih banyak loh dokter yang paham bahaya akibat dari rokok masih kok menghisap rokok. Begitu juga dengan pejabat-pejabat yang mengeluarkan peraturan mengenai pelarangan merokok.

Stop Merokok
Hentikan kebiasaan merokok demi masa depan bangsa yang lebih baik. (Pict. Shutterstock)

Di Indonesia, merokok sudah dianggap sebagai budaya, merokok ini sulit untuk dihilangkan. Bahkan jumlah perokok usia muda semakin meningkat setiap tahunnya. Kalau di negara maju lainnya bisa menetapkan harga mahal untuk mengurangi perokok, di Indonesia sulit untuk diterapkan, karena saat harga dan cukai di naikan, petani tembakau akan menjerit karena penjualan produk mereka menurun.

Kalau di negara lain diketahui pejabat pemerintah ada yang memberi dukungan atau meminta dukungan ke pengusaha rokok, maka karir politik mereka akan hancur. Di Indonesia hal tersebut tidak berlaku, malah sebaliknya banyak pengusaha rokok yang menjadi sumber utama dari dana politik atau kegiatan sosial.

Padahal nih, kalau pemeritahan mau melakukan tindakan preventif berupa peraturan yang ketat dan tegas, harga dan cukai yang tinggi pasti pengusaha rokok akan berfikir panjang dan menutup pabrik mereka. Sudah tentu pemeritahan juga diharapkan memberi solusi saat pabrik rokok tutup dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi buruh-buruh yang kehilangan pekerjaan dari pabrik rokok.

Peningkatan penyakit yang paling cepat adalah penyakit tidak menular, penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, konsumsi gula berlebihan, kurang olahraga, dan tingkat stress yang tinggi.

Dengan tidak adanya yang memproduksi rokok, maka tingkat pertumbuhan penyakit tidak menular dapat ditekan.

Siaran ini bisa disimak di 100 radio jaringan KBR dari Aceh sampai Papua. Di Jakarta, simak di Power 89.2 FM. Anda juga bisa meyimak lewat Facebook page Kantor Berita Radio KBR, website KBR.ID atau lewat aplikasi KBR Radio di Andriod atau iOS.

Kalian juga bisa langsung bertanya kepada narasumber di nomor bebas pulsa 0 800 140 3131. Bisa juga sampaikan lewat SMS dan Whats App di 0812 118 8181. Mention kami juga di Twitter @halokbr atau di Instagram @KBR.ID dengan tagar RUANG PUBLIK KBR.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *