Jelajah Gizi – Petualang Mengeksplorasi Kuliner dan Gali Potensi Pangan Daerah

Posted on

Saat dibuka pengumuman kalau #JelajahGizi akan diadakan lagi oleh Sarihusada, dengan antusias saya mengikuti tantangan yang diberikan, yaitu kompetisi ‘Resep Jajanan Khas Kota Hujan’ dengan menerapkan pola makan bergizi dan berkelanjutan. Saya langsung terbayang kuliner Soto Mie Bogor, sebagai kuliner khas yang selalu saya incar kalau jalan-jalan ke kota hujan.

Jelajah Gizi Bogor
Soto Mie Bogor membawa saja ikut dalam petualangan Jelajah Gizi Bogor

Sudah tiga tahun berturut-turut saya terus mengikuti tantangan jelajah gizi, namun tidak beruntung. Alhamdulillah akhirnya berkesempatan untuk dapat ikut serta di #JelajahGiziBogor tahun 2019. Ternyata jelajah gizi sudah memasuki tahun ke-7 loh, berawal dari jelajah gizi di Gunung Kidul tahun 2012 dan tahun 2018 lalu di Semarang.

Kegiatan ini sangat menarik bagi saya yang setiap tahunnya hanya bisa memantau melalui media sosial Nutrisi Bangsa ๐Ÿ™‚ kegiatan kulineran sambil mengupas tuntas mengenai gizi, sejarah dan juga menggali potensi pangan khas setiap daerah di Indonesia.

Soto Mie Kesatuan di Jelajah Gizi Bogor
Destinasi pertama di Jelajah Gizi Bogor, mengunjungi Soto Mie Kesatuan
Soto Mie Kesatuan khas Bogor
Ini Soto Mie asli Bogor yang legendaris.

Hari pertama tiba di Kota Bogor, jelajah gizi kami langsung mengunjungi kedai Soto Mie Kesatuan di Jalan Surya Kencana untuk mencicipi kulier paling khas di Bogor. Kuliner lokal ini sudah dikelola oleh generasi keempat, yang sudah berdiri sejak tahun 1983.

Ternyata rasa Soto Mie asli Bogor tuh lebih manis loh, hal ini dikarenakan kuahnya menggunakan kaldu dari daging bagian sengkel, daging kepala dan has dalam. Istimewanya lagi, ada lobak putih dan menggunakan mie basah. Meskipun tempatnya ga luas, tapi banyak orang yang antri untuk menikmati kuliner yang satu ini.

Namanya juga jelajah gizi, pasti akan selalu kulineran tetapi tidak lupa kita akan bahas gizi dari setiap makanan yang kita temui. Soto Mie Bogor, merupakan salah satu kuliner khas Bogor yang memiliki gizi seimbang, dalam setiap porsinya mengandung karbohidrat yang berasal dari mie dan bihun, protein yang berasal dari daging serta serat yang berasal dari sayur-sayuran.

Berpetualang di Boja Farm

Setelah itu kami diajak mengunjungi Boja Farm dan berbincang-bincang dengan Bapak Jhon Tumiwa, pemilik perkebunan seluas 15ha yang menghasilkan produk Java Spices di desa Tajur Halang, Bogor.

Jelajah Gizi di Boja Farm
Jelajah gizi mengunjungi Boja Farm produsen dari Java Spices.

Boja Farm adalah tempat pelatihan yang memberikan edukasi kepada banyak pemuda dan pemudi dari berbagai daerah di Indonesia, mereka memperoleh informasi bagaimana mengolah dan memproduksi hasil bumi berupa perkebunan, dengan hasil tanaman berupa bumbu-bumbu organik.

Jhon menjelaskan tidak mudah dalam mengelola perkebunan seluas ini, adapun kendala yang dihadapi adalah :
1. Hasil panen yang tidak stabil, dengan harga yang terus naik turun
2. Banyak petani yang tidak paham cara menanam tanaman bumbu seperti Parsley, Oregano, Rosemary, Sage, Stevia, Thyme yang nilai jualnya tinggi di pasar internasional.

Namun kerja kerasnya berbuah manis, saat ini pemasaran Java Spices ada di beberapa supermarket seperti Kemchick, dan Farmer juga dijual secara online di Java Spices online shop. Banyaknya masyarakat yang sudah peduli terhadap lingkungan dan kesehatan, sehingga membuat Java Spices semakin banyak dicari.

Beliau memberikan informasi bagaimana membedakan tanaman organik dengan tanaman yang terpapar pestisida:
1. Ada jejak ulat atau hama di tanaman, ini menandakan tanaman organik.
2. Terlihat bagian tanaman yang layu dan ada yang membusuk.
3. Jadi, jika melihat tanaman yang tampak segar dengan tanpa noda, ada kemungkinan itu sudah di terpapar pestisida yang membahayakan kesehatan.

Jhon juga menghimbau agar masyarakat mau ikut serta dalam melakukan penanaman pohon atau tanaman sayur di rumah masing-masing, sebagai salah satu “Aksi Kita Tentukan Masa Depan”. Saat pulang dari Boja Farm, setiap peserta di bekali tanaman juga loh, saya bawa pulang Rosemary untuk dirawat dan dimanfaatkan nantinya.

Jelajah Gizi
Pemaparan dari Prof. Ahmad dan Bapak Arif Mujahidin mengenai Jelajah Gizi dan Pangan Berkelanjutan.

Kami juga mendapatkan banyak ilmu dari Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS yang menjelaskan kepada kami mengenai Healthy Diet dan Sustainable Food.

Prof. Ahmad menjelaskan bagaimana kaitan antara konsumsi makanan yang sehat dengan kesehatan tubuh dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, ditekankan bahwa terjadinya kekurangan gizi terjadi akibat kurang memadainya kuantitas maupun kualitas pangan, yang juga bisa disebabkan karena rendahnya literasi pangan dan gizi sehingga kurang mampu memanfaatkan sumber daya pangan yang ada dengan baik.

Pola makan bergizi dan berkelanjutan dapat diterapkan dengan berbagai cara, yaitu dengan memanfaatkan bahan lokal, memastikan makanan yang kita olah bernutrisi, membeli makanan yang aman untuk dikonsumsi, dan juga dengan tidak membuang-buang makanan. Dengan menerapkan ini, secara tidak langsung kita bisa juga berkontribusi pada lingkungan serta tetap menjaga kesehatan lho!

Setiap orang bisa mulai berkontribusi untuk sustainable lifestyle, dan dapat dimulai dari rumah sendiri, contohnya dengan mengurangi food waste dan memilah sampah di rumah. Kita juga bisa menerapkan โ€œeat localโ€ dengan mengonsumsi makanan produk lokal sehingga dapat mengurangi jejak karbon.

Hadir juga Bapak Arif Mujahidin yang menjelaskan apa tujuan dari kegiatan Jelajah Gizi yang tahun ini merupakan kegiatan di tahun ke-7. Diharapkan peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat menyebarkan informasi dan edukasi mengenai potensi pangan yang ada di Indonesia terutama kota Bogor.

Warung Anak Sehat SDN Dewi Sartika 3 Bogor

Hari kedua kami mengunjungi Warung Anak Sehat SDN Dewi Sartika 3 Kota Bogor, yang merupakan salah satu dari program sosial PT.Sarihusada Generasi Mahardika dan Danone Indonesia, yang bertujuan untuk membentuk sejak dini kebiasaan baik mengkonsumsi makanan sehat, bergizi dan bernutrisi, juga berikan akses jajanan sehat pada anak-anak usia 5-12 tahun di Sekolah Dasar (SD).

Warung Anak Sehat SDN Dewi Sartika 3
Perjuangan dalam penerapan Warung Anak Sehat SDN Dewi Sartika 3, Bogor

Baca juga : Penerapan Warung Anak Sehat Sebagai Upaya Pemberdayaan Perempuan Indonesia

Warung Anak Sehat berusaha memberikan akses jajanan yang lebih sehat dan bernutrisi kepada siswa di sekolah, dimana penyediaan makanan berupa jajanan dilakukan oleh para ibu yang telah terlatih mengenai nutrisi dan pangan jajajan sekolah yang aman dan sehat, mereka dinamakan Ibu Warung Anak Sehat (IWAS)

Aneka makanan di kantin sekolah sangat memperhatikan gizi seimbang dan pemenuhan nutrisi anak-anaknya Sekolah Dasar, dijual dengan harga yang terjangkau dengan uang saku. Hal ini membuat semua murid tidak lagi tertarik untuk membeli jajanan di luar sekolah yang tidak terjamin kesehatannya.

Budidaya Talas di Desa Situ Gede Bogor

Kami juga mengunjungi daerah penghasil talas, yang merupakan tanaman paling khas di Kota Bogor. Pangsa pasar talas ternyata sangat bagus, sehingga di budidayakan dengan baik.

desa penghasil talas
Kampung Cilubang Tonggoh, terkenal sebagai desadpenghasil tanaman talas.

Kampung Cilubang Tonggoh, Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat terkenal dengan Talas. Pak Abidin selaku perwakilan dari Kelompok Tani Saluyu sedang menjelaskan tentang perkebunan Talas Bogor yang ada di desa mereka.

Di sini, mereka melakukan penanaman talas di varietas talas ungu, talas Taiwan dan talas Bogor. Di sini saya baru tahu kalau ternyata talas itu ada berbagai macam jenisnya, selain bentuk fisik, rasanya juga berbeda loh.

Jelajah gizi kunjungi desa penghasil talas
Jelajah gizi kunjungi desa penghasil talas

Buat kalian yang pernah gatal setelah makan talas, ada info penting nih kalau TALAS bukan pencetus gatal atau alergi, yang bikin gatal adalah cara pengolahan yang salah.

Prof. Ahmad juga menjelaskan bahwa Talas juga bersifat probiotik yang bagus untuk pencernaan bagi tubuh, bahkan bagus untuk mencegah kolesterol. Talas bisa juga digunakan untuk pengganti nasi. Talas bahkan baik bagi penderita diabetes dan bisa mencukupi 10% kebutuhan dari serat yang kita butuhkan. Mau diet? Yuk konsumsi olahan talas.

Tidak hanya rasanya yang enak, talas juga bisa memberikan kita berbagai manfaat kesehatan, seperti mengatasi masalah pencernaan, darah tinggi, juga menguatkan sistem kekebalan tubuh.

Sayangnya lahan untuk budidaya tanaman talas secara organik ini semakin sedikit, tergerus oleh kebutuhan tempat tinggal. Budidaya talas di sini menggunakan sistem tumpang tarik, dimana lahan bergantian untuk ditanam dengan bengkoang dan jagung. Sehingga lahannya terus produktif dan tidak hanya menghasilkan satu komoditas tanaman.

Desa Buntar Penghasil Komoditas Pala

Tidak hanya itu, kami juga mengunjungi desa penghasil buah paling khas dari Bogor, yaitu buah Pala. Desa Buntar, merupakan salah satu desa penghasil Pala terbesar di Bogor, yang dikelola melalui Program Pembinaan Wanita Keluarga Sehat Sejahtera.

Bertemu dengan Ibu Nurhasanah, ketua KWT (Kelompok Wanita Tani) Bina Tani di Kampung Buntar, beliau menceritakan awal mula dari terbentuknya Mysari (Nama merek produk olahan pala di kampung ini).

Desa Buntar penghasil Pala di Bogor
Desa Buntar penghasil Pala di Bogor

Buah Pala yang melimpah disini di olah menjadi asinan, manisan, sirup, teh, bumbu dan lainnya. Buah Pala merupakan salah satu komoditi yang menjadi incaran banyak negara asing, yang membuat Indonesia dijajah oleh Belanda. Selain karena fungsinya yang sangat beragam, nutrisi yang terkandung di dalamnya juga ga main-main loh.

Olahan buah Pala
Beragam olahan di kreasikan untuk membuat Pala lebih bernilai tinggi.

Prof. Ahmad di sini menjelaskan bahwa pala adalah buah asli dari Indonesia. Indonesia memasok 60% kebutuhan produksi pala dunia, dan penghasil pala terbesar di Indonesia berasal dari Jawa Barat, yaitu Bogor dan Sukabumi.

Pala mengandung minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis minuman dan juga untuk pembuatan parfum. Awal mulanya yang dimanfaatkan hanyalah biji pala saja dan bagian buah lain dianggap sebagai limbah, namun di sini semua bagian dari pala di kreasikan menjadi berbagai macam jenis olahan yang memiliki nilai jual.

Bagaimana pangan berkelanjutan saya temukan di setiap kunjungan dalam Jelajah Gizi Bogor kali ini, berharap semoga warga kota Bogor dapat lebih menggali potensi dari kekayaan alam yang ada di daerah mereka.

Mengenal Herbarium di Kebun Raya Bogor

Berkunjung ke Kebun Raya Bogor, yang merupakan sebuah kebun botani besar yang terletak di Kota Bogor, Indonesia. Luasnya mencapai 87 hektar dan memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan.

Herbarium di kebun raya Bogor
Mengenal Herbarium di kebun raya Bogor.

Bertemu dengan Bapak Kusnadi, teknisi Herbarium Kebun Raya Bogor, di sini kita mengenal Herbarium yang merupakan sumber informasi tanaman untuk studi taksonomi, biogeografi, dan keanekaragaman tumbuhan.

Daun, biji, buah, dan kayu semua pohon yang pernah ditanam di Kebun Raya Bogor di klasifikasi, dikoleksi dan di dokumentasikan oleh Herbarium, Bahkan koleksi yang ada menjadi aset negara loh.

Perjalan kami sebenarnya lebih banyak kulineran ๐Ÿ™‚ย  dari makan Soto Kuning Pak Yusuf, makanan khas Bogor yang bertahan selama 30 tahun, dengan ciri khas kuah soto yang terpisah dari isian seperti daging, babat, paru, empal goreng, otak goreng, iso, limpa dan lain-lainnya.

Soto Kuning khas Bogor
Menikmati soto kuning pak Yusuf di Bogor.

Khawatir kolesterol kalau makan soto kuning? Kalau kata Prof. Ahmad, makan menu yang mengandung kolesterol ini sebenarnya tidak apa-apa, asalkan seimbang. Seimbang di sini maksudnya adalah dengan mengombinasi makanan dengan yang berserat tinggi misalnya minuman Es Cincau, juga perbanyak aktivitas kita. Jangan selesai konsumsi makanan ini langsung terlena dan tidur.

Kami juga melakukan kuliner Race mencari makanan khas Bogor seperti Es Pala, Bir Kotjok, Toge Goreng, Laksa Bogor, Lumpia Basah, Pepes Sagu dan Sate Cungkring.

Kuliner Race
Kuliner Race makanan khas Bogor
Kuliner Race tim doclang
Kuliner Race minuman khas Bogor

Kemudian tempat terakhir yang dikunjungi sebelum pulang adalah asinan gedung dalem Bogor, yang sudah berdiri sejak tahun 1978. Awalnya pemilik asinan berjualan secara keliling, dengan kerja keras dan inovasi yang terus dilakukan, akhirnya memiliki kedai sendiri dan terus bertahan sampai sekarang.

Asinan Gedung Dalem Bogor
Mengunjungi Asinan Gedung Dalem Bogor

Asinan yang terdiri dari buah dan sayuran memiliki kandungan serat yang tinggi, menjadi favorit dan oleh-oleh khas kota Bogor. Asinan di sini di jual dari harga Rp 25.000 – 35.000 tanpa bahan pengawet

Ini dia nih pemberhentian terakhir dari #JelajahGiziBogor adalah Macaroni Panggang dan juga MP Steak, hayoo siapa yang enggak kenal sama oleh-oleh bogor yang fenomenal ini. Awalnya mereka produksi Pie Apel, kemudian terus berkembang dan lebih fokus pada makaroni panggang dan steak.

Macaroni Panggang Bogor
Jelajah Gizi Bogor berakhir di Macaroni Panggang.

Walaupun menu yang disuguhkan banyak yang merupakan menu makanan dari luar negeri, akan tetapi bahan yang digunakan merupakan bahan pangan lokal.ย  Apel yang digunakan untuk membuat Pie Apel adalah Apel Malang, dan daging yang digunakan untuk membuat beberapa menu Steak menggunakan daging sapi lokal. Selain itu, di tiap resto selalu menyajikan menu lokal Indonesia.

Menjadi pengalaman berharga yang akan saya kenang seumur hidup, dan berharap bisa menjadi bagian Jelajah Gizi di tahun depan, penasaran akan di lakukan dikota mana ya jelajah gizi mendatang ๐Ÿ™‚ .

Terimakasih Sarihusada dan Jelajah Gizi,, petualangan Jelajah Gizi Bogor sangat menyenangkan dan memberikan banyak pengalaman baru bagi saya.

Spread the love

3 thoughts on “Jelajah Gizi – Petualang Mengeksplorasi Kuliner dan Gali Potensi Pangan Daerah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *