Indonesia Bebas Stunting

Dok. Kemenkes

Selamat pagi, apa kabar hari ini? Sudahkah memulai mewujudkan resolusi 2018 di awal tahun ini?

Mulai resolusi dengan lebih menjaga kesehatan lingkungan dan pola makan yuk, juga mulai peduli dengan sekitar. Apa masih ada anak-anak dengan gejala Stunting di sekitar kita?

Apa sih yang ada dalam pikiran kalian saat mendengar kata-kata “Stunting”, beberapa bulan terakhir sering loh tayang iklan layanan masyarakat dari Kemenkes, mengenai usaha pemerintah dalam mengurangi generasi Indonesia Stunting.

Di dunia, tercatat 3 negara dengan tingkat Stunting tertinggi, yaitu Laos, Kamboja dan Timor Leste.

Tercatat sebanyak 178 juta anak di bawah umur 5 tahun di dunia menderita stunting. Faktanya, angka stunting di Indonesia sebesar 37%. Hampir di seluruh Provinsi di Indonesia memiliki prevalensi stunting pada balita yang tinggi atau sangat tinggi terhadap stunting.

Apa mungkin ya, pemerintah bersama masyarakat Indonesia melakukannya? Sebelum itu, mari kita pahami terlebih dahulu apa itu Stunting dan mengapa pemerintah sampai berusaha untuk menghilangkan Stunting di Indonesia.

Kegiatan Sarasehan bersama Komunitas, Media dan Blogger untuk memahami “Stunting”

Jakarta, 27 Desember 2017 saya menghadiri acara Talkshow, tepatnya Sarasehan Komunitas, Media dan Blogger dengan tema “Memahami Stunting dan upaya yang bisa dilakukan bersama untuk mengatasinya”, bersama Yayasan Sanyangi Tunas Cilik (YSTC) berjejaring dengan lembaga-lembaga CSO dalam Scaling Up Nutrition (SUN) CSO network.

Dr. Entos memberikan informasi mengenai “Stunting”

Narasumber Dr.Entos Zainal S.P. MPHM kasubdit Promosi Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementrian BAPPENAS, menjelaskan betapa pentingnya peran serta masyarakat dan pemerintah untuk mengurangi tingkat stunting di Indonesia.

Stunting adalah masalah kurang gizi yang kronis atau malnutrisi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang, dalam waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu saat janin masih dalam kandungan dan baru akan nampak pada saat anak berusia dua tahun.

Seorang anak akan terlihat mengalami Stunting ketika di bandingkan dengan anak-anak lain seusianya, dengan kondisi tubuh lebih kecil, pendek dan kurus. Stunting pada anak akan mengakibatkan generasi masa depan yang kurang baik, karena mereka yang mengalami Stunting akan memiliki IQ >95 yang membuat mereka tidak bisa bersaing saat dewasa kelak, juga lebih beresiko mengalami obesitas diusia 18 tahun.

Pemberian nutrisi yang baik mencegah “Stunting”

Hal yang harus diperhatikan mengenai Stunting :
• Merupakan dampak Malnutrisi pada bayi yang bersifat permanen.
• Deteksi dini risiko gagal tumbuh sudah harus diterapkan sejak awal pemberian ASI.
• Pemberian ASI & MPASI dengan nutrisi yang baik dan solusinya diharapkan dapat mencegah gizi kurang bahkan gizi buruk yang berdampak pada kualitas manusia jangka pendek dan jangka panjang.

Kualitas dan kuantitas asupan protein penting sangat diperlukan untuk mencegah stunting
– Tinggi Badan anak yang mendapat protein 15% dari total asupan kalori > daripada yang mendapat protein 7,5% dari total asupan kalori.
– Sumber protein utama pada diet prot 15% adalah protein hewani (susu, telur, ayam) yang mengandung asam amino esensial yang menunjukkan bahwa kualitas protein juga kritis untuk pertubuhan linear.

Indonesia Bisa Bebas Stunting

Stunting memang merupakan masalah kesehatan yang berdampak bagi masa depan kelangsungan suatu negara. Namun bisa dicegah sejak dini, mulai dari dalam kandungan hingga masa periode emas pertumbuhan anak.

Pentingnya 1000HPK untuk mencegah Stunting

Berikut ini tips mencegah stunting.
1. Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi (tablet zat besi atau Fe)
2. Pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai umur 6 bulan, dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya.
3. Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.
4. Saat anak berusia tiga tahun dianjurkan mengkonsumsi 13 gram protein yang mengandung asam amino esensial setiap hari, yang didapat dari sumber hewani, yaitu daging sapi, ayam, ikan, telur, dan susu.
5. Orang tua, terutama Ibu harus rajin mengukur tinggi badan dan berat badan anak setiap kali memeriksa kesehatan di Posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak serta mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.

Dengan program dan bantuan dari pemerintah Indonesia dalam mengentaskan Stunting, serta kerjasama serta dukungan dari masyarakat, saya yakin Indonesia pasti bisa terbebas dari masalah Stunting.

Sekarang yang harus di utamakan adalah kesadaran masyarakat untuk selalu hidup sehat, dan mengkonsumsi makanan sehat, terutama bagi ibu hamil agar masa depan dan tumbuh kembang anak bisa optimal dan sempurna.

2 Replies to “Indonesia Bebas Stunting”

  1. Stunting msh jadi masalah gizi anak dj indonesia, ya. Dari aku kukiah stunting dan gizi buruk jd pokok pembicaraan bgt, mbak. Mudah2an makin ke sini masyarakat makin paham dan indonesia bisa bebas stunting juga gizi buruk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *