Potret Generasi Milenial Dalam Film “My Generation”

Posted on

Pernahkah merasa kesal ketika melihat kelakuan anak-anak remaja saat ini? Sikap mereka yang kurang sopan, tidak peka pada lingkungan, sibuk dengan gadget, asik dengan media sosial dan sedih kalau punya sedikit follower?

Sejenak pasti kita akan berkata “kenapa sih remaja sekarang ga punya etika dan sopan santun, tidak seperti kita saat remaja”.

Apa seyakin itu, apa kita tidak pernah melakukan kekonyolan,  kesalahan, dan kenakalan saat di usia seperti mereka yang kita cibir?

Hey,, come on…. kita sekarang memang berperan sebagai orang tua, tetapi kita juga pernah muda kan, pernah juga berada di fase labil dan bergejolak, mengalami juga masa pubertas. Kita sangat ingin melakukan banyak hal, melakukan eksplorasi pada minat yang kita sukai.

Saya bukannya memihak remaja untuk melakukan kesalahan atau membenarkan perilaku mereka saat ini, tetapi mari kita berkaca terlebih dahulu. Sebagai orangtua, apakah kita sudah memberikan contoh yang baik, mencerminkan sikap santun pada setiap perilaku kita.

Anak-anak adalah peniru yang ulung, karena mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar di dalam keluarga, di lingkungan maupun di sekolah.

Ayah, Bunda jangan berharap anak akan penuh sopan santun, berbudi pekerti luhur dan menjadi makhluk yang sempurna, apabila kita belum memberikan contoh terbaik.

Anak-anak saat menjalani fase remaja, pasti akan mengalami guncangan dan krisis percaya diri, atau bahkan gejolak darah muda yang merasa selalu paling benar. Terlebih saat mereka tidak mendapatkan dukungan dan fondasi yang kuat dari keluarga.

Krisis percaya diri ternyata tidak hanya dialami oleh anak-anak remaja saja, bahkan orang tua terkadang masih sibuk mencari sejati dirinya seperti apa. Sehingga, saat anak mencari sosok yang bisa dijadikan panutan atau contoh, mereka belum menemukannya pada orang tua mereka.

Pada akhirnya, anak akan lebih memilih untuk mencoba banyak hal baru sebagai pelampiasan.
Sebagai orangtua, mulailah lebih dekat dengan anak, mulai dengarkan apa yang mereka inginkan (bukan berarti menuruti semua yang mereka mau). Berbagilah masalah dengan anak (bukan dengan mengeluh dan teriak ya), tetapi bicara dengan terbuka agar anak memahami juga apa yang orang tua khawatirkan.

Berkaca pada permasalahan yang dihadapi oleh banyak remaja, atau kids zaman now, sutradara dan penulis skenario, Upi membuat sebuah film berjudul ” My Generation “.

Film-film besutannya yaitu, Realita Cinta dan Rock &
ROLL, 30 Hari Mencari Cinta, juga My Stupid Boss semua box office dan mencuri perhatian banyak penonton.

Film terbarunya My Generation, di produksi oleh IFI Cinema, dengan seluruh pemeran utamanya adalah pendatang baru, sehingga membawa angin segar pada setiap aktingnya yang natural.

Pemain utamanya adalah Bryan, Alexandra Kosasie,
Lutesha, dan Arya Vasco

“Film ini mencoba memotret kehidupan anak muda masa kini yang lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Temanya memang lebih kekinian yaitu tentang generasi milenial,”
Film My Generation bercerita tentang persahabatan empat anak SMU, Zeke, Konji, Suki dan Orly. Keempatnya mendapati fakta bahwa liburan sekolah mereka tak istimewa. Namun hal itu membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran sangat berarti dalam kehidupan.

Jika kebanyakan film di Indonesia mengangkat sisi orangtua yang mempertanyakan sikap atau prilaku sang anak, maka sudut pandang pada film ini justru kebalikannya loh, film ini mempertanyakan sikap/prilaku orang tua.

Ini sebenarnya “warning” atau peringatan dan juga pembelajaran bagi orangtua, untuk “melek” terhadap realitas anak zaman millenial (gen Z) yang kritis, kreatif, open minded, dan mereka tak suka dengan sesuatu yang terlalu mengikat. Apalagi sok moralis, padahal ga sedikit prilaku orang tua yang justru mencerminkan
prilaku amoral, intolerance, suka labelling negatif, dan sebagainya.

Mereka (anak-anak gen Z sebenarnya mudah diatur jika memang orang tua benar-benar bisa memberikan teladan, dan tak menghakimi apalagi suka membanding-bandingkankan).

Film ini mengajak orang tua lebih peka dan memandang anak sebagai subyek, bukan obyek yang selalu dijejali dengan dogma2, yang dalam kenyataannya tidak berhasil dicontohkan orang tua, dan para guru.

Tetaplah “menjadi manusia” untuk mendekati manusia jika ingin melakukan perubahan, bukan “menjadi Tuhan” yang notabene punya hak veto atas surga dan neraka. Dan, tidak juga berperan “menjadi malaikat” yang memang diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang suci karena tak punya nafsu.

Manusia adalah mahluk yang sangat unik : ada nafsu-nafsu dan kita harus tetap eksis
#MenjadiManusia yang penuh manfaat, sementara nafsu demikian bergemuruh.

Visualiasasi film ini memang terlihat begitu berani jika kita menilainya dari sisi nilai-nilai budaya “ketimuran” dan religi bangsa Indonesia. Tetapi, jika kita ingin menilik lebih dalam dan mau jujur….sebenarnya ini adalah realitas anak muda saat ini. Mengapa bisa seperti itu ? Kembali pertanyaan seharusnya kembali pada kita : bagaimana kita memberikan contoh dan berprilaku.

Film ini “kalo kita mau jujur” sebenarnya “menelanjangi diri kita juga” untuk mengevaluasi sikap dan prilaku kita, baik yang sudah menjadi orang tua maupun yang belum.

Sekali lagi, kalo kita ingin memperbaiki moralitas bangsa ini, kembalilah pada fitrah kita sebagai manusia, lebih memahami dunia remaja, dan bisa open minded… Tidak memandang dunia ini serba hitam dan putih, dan langsung menyodorkan “neraka” atau “surga”.

Karena bagaimanapun juga anak adalah manusia, yang memiliki akal untuk memilah dan memilih mana yang baik dan buruk. Tugas kita sebagai orangtua untuk membimbing mereka, bukan mendoktrin untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan.

Penasaran, yuk nonton trailernya dulu sebelum di putar di bioskop mulai tanggal 9 November 2017.

Setelah nonton trailernya penasaran dong cerita untuh dari Film My Generation, nonton bareng yuk bersama teman sekolah, bersama orangtua, bersama guru juga oke.

Kita coba saling memahami apa sih keresahan kita sebagai orangtua dan apa dilema anak-anak kita menghadapi masa remajanya.

Setelah menonton silahkan taruhbopini kalian di sini ya, kita bahas masalah masa remaja kita dulu dan juga masa pubertas anak-anak kita.

Tapi ingat jangan sampai mengalami pubertas kedua loh ya, bisa-bisa malah bikin repot keluarga kita nanti :p

Spread the love

7 thoughts on “Potret Generasi Milenial Dalam Film “My Generation”

  1. Problematika generasi millenial sangatlah komplek. Tak terpecahkan, manakala orang tua tak mampu menjawab perkembangan zaman. Keliru, saat orang tua menganggap kekritisan seorang anak dianggap sbg anak nakal, padahal itu pola berpikir kritis yang tidak semua orang mampu untuk berpikir. Lantas, sikap seperti apa yang dibutuhkan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Film ini sebagai potret generasi millenial meminjam bahasa penulis, iya, potret kekinian tentang problematika dan seabreg solusinya. Film ini saya rasa edukasi yang berbentuk tontonan. Kita berharap, film ini mampu menjadi referensi dalam memecahkan permasalahan generasi millenial dewasa ini.

  2. Mba Upi memang sangat jeli ya, mengangkat tema permasalahan anak sekolah zaman sekarang ini dan bagaimana hubungan mereka dgn orangtua zaman now..

    Kita akan segera menemukan jawabannya kelak pada tanggal 9 November 2017 nanti ya Mba..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *